Kisah inspiratif Penjual pisang buta yang jujur

loading...

ilustrasi jujur, sumber:pixabay
Seperti biasanya malam itu selepas Isya, aku dan beberapa tetangga rumah di komplek sekitar rumah duduk - duduk sembari ngopi di pos siskamling dekat rumah. Sedang asyik ngobrol ngalor ngidul mulai dari masalah politik, olahraga, sampai dengan masalah warga komplek, lewatlah seorang tukang pisang yang sudah kelihatan tua dengan di temani oleh seorang bocah seumuran anak SD menjajakan dagangannya.
" Pisang...Pisang...", begitu teriaknya. Sejenak obrolan kami yang sedang asyik terhenti, kami mengamati si tukang pisang tersebut dan memunculkan beberapa pertanyaan di benak kami. " Mengapa sampai malam begini kok masih ada tukang pisang keliling komplek "? Celetuk pak Agus, salah seorang tetanggaku. " Kenapa bawa anak kecil segala ?" Sahut pak Joko tetanggaku yang lain. " Ada apa keranjang pisangnya di pegangin anaknya itu ?" Tanyaku dengan penuh selidik.

Akhirnya kami memutuskan untuk menegur mereka. " Wah, malam - malam begini masih ada pisang ya Mang ?" Tanyaku. " Iya masih ada pak, ada pisang raja dan ambon, masih segar dan masak di pohon Pak" sahut si Mamang tukang pisang tersebut. " Apakah ini anaknya Mamang ?" Tanya pak Agus. " betul pak, ini adalah anak saya yang kedua" sahutnya. " kok malam - malam begini masih ikut jualan, apa tidak sekolah besok pagi ?" Tanya pak Agus dengan penasaran. " Sudah belajar tadi sore pak, sebelum mengantar bapak keliling jualan", jawab anak itu. " Kok Bapak malam - malam masih jualan bawa anak kecil lagi ". "Apa nggak kasihan besok kan harus ke sekolah pagi - pagi" tanyaku. 
" Bapak saya buta pak, jadi terpaksa harus di antar dan di temani kalau mau jualan keliling". Sahut anak itu menjelaskan. Kami sangat terkejut mendengar penjelasan seorang bocah ingusan yang begitu berbakti kepada orang tuanya.
" Bapak kalau pagi mangkal di dekat pasar, baru sore sampai malam keliling komplek menjajakan sisa pisang dagangannya " timpal anak itu kembali. Akhirnya dengan berbisik - bisik kami lalu berniat untuk membeli dagangan nya. Karena merasa terharu, kami lalu dengan sengaja melebihkan uangnya dari harga yang di tawarkan kepada kami. Tetapi apa yang kami lakukan ternyata mendapatkan tanggapan berbeda dari penjual pisang tersebut. " Ini pak kembaliannya seribu rupiah". Kata si tukang pisang tersebut. " Sudah tidak apa - apa , itu kembaliannya buat Mamang dan anak Mamang saja", jawab kami serentak.
" Tapi maaf pak, kami ini berjualan bukannya mau mengemis", sahutnya. Ia kemudian mengembalikan kembalian seribu rupiah tersebut kepada kami, padahal kami sudah rela memberikannya kepada mereka. Kemudian si tukang pisang itu permisi pergi melanjutkan keliling komplek menjajakan dagangannya. Terbersit dalam hati sanubari kami masing - masing, ternyata masih ada orang jujur dan mulia di negeri ini. Uang kelebihan seribu rupiahpun tidak mau dia terima karena merasa itu bukan haknya. Itu semua demi harga diri dan prinsip yang begitu luhur. " Saya berjualan pak bukan mengemis ", masih terngiang apa yang di katakan tukang pisang buta tadi. 

Sobat Muslim...
Ada dua pelajaran penting yang bisa kita petik dan ambil dari kisah di atas, yaitu :
(1). Seandainya mental itu ( tidak rakus pada harta yang bukan haknya ) ada di sanubari semua pejabat kita tentu saja uang rakyat yang jumlahnya triliunan rupiah bisa di selamatkan untuk mensejahterakan rakyat, termasuk kita tentunya.
(2). Betapa besar rasa optimis dari tukang pisang buta itu, dengan kondisi yang buta dia keliling komplek sampai malam hari demi mencari rezeki yang halal, sementara kita orang yang lebih beruntung ( kondisi mata normal ) mungkin sudah santai menonton televisi atau bahkan sudah beranjak tidur.

Sobat Muslim...
Semoga kita bisa lebih mensyukuri nikmat, berkah, dan anugerah dari Allah SWT.
Aamiin ya rabbal 'Alamiin

Catatan kaki : 

  • Di sarikan dari buku PAI & Budi pekerti diknas
  • www.kisahinspiratifislam.tk