Kumpulan Artikel Tentang Shalat | Hal-Hal Sunah Sebelum Shalat Fardlu



Sebelum kita melaksanakan ibadah shalat fadlu (wajib) secara berjamaah, maka kita di sunahkan untuk mengumandangkan lafadz adzan dan iqamah. Pengertian adzan adalah lafadz atau kalimat - kalimat tertentu yang di kumandangkan sebagai penanda bahwa waktu shalat fadlu telah tiba. Sedangkan iqamah adalah lafadz atau kalimat - kalimat tertentu yang di kumandangkan sebagai penanda bahwa shalat fardlu berjamaah akan segera di mulai.

Untuk shalat sunah tidak di sunahkan untuk menyerukan lafadz adzan maupun iqamah akan tetapi untuk shalat sunah yang di kerjakan secara berjamaah seperti misalnya shalat sunah Tarawih, shalat Iedul fitri, shalat Iedul Adha, shalat Gerhana, shalat Istisqa dan shalat jenazah menggunakan ladfadz atau kalimat - kalimat tertentu yang sesuai dengan  kaidah hukum fiqih yang telah di tentukan.

Bagaimanakah hukum adzan dan iqamah itu ?  Hukum mengumandangkan adzan dan iqamah adalah sunah dan di lakukan ketika akan mengerjakan shalat fardlu. Di sunahkan pula untuk mengeraskan suara adzan ketika waktu shalat fardlu telah tiba, terkecuali di tempat yang sudah di laksanakan shalat fardlu sebelumnya.

Bagaimanakah lafadz adzan itu ?

Berikut ini adalah gambar contoh dari lafadz adzan sebelum shalat fardlu.

Sumber:pinterest

Dalam sejarahnya orang yang pertama kali mengumandangkan adzan sebelum shalat fardlu adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Bilal bin Rabah. Bilal adalah termasuk kedalam golongan sahabat Nabi SAW yang paling dekat karena dia adalah orang ketujuh yang pertama kali mengakui kenabian Nabi Muhammad SAW dan menyatakan beriman kepada Allah SWT. Di pilihnya Bilal sebagai Muadzin pertama oleh Nabi SAW adalah karena Bilal mempunyai suara yang sangat merdu dan indah. Selain itu Bilal juga mempunyai suara yang keras sehingga suara adzan yang di kumandangkannya bisa menjangkau umat Islam yang lebih luas.

Syarat - Syarat Adzan Dan Iqamah.

  • Harus di baca secara tertib sesuai dengan urutan bacaannya.
  • Harus bersambung artinya tidak berhenti dan di selingi dengan bacaan - bacaan yang lain.
  • Harus di kumandangkan dengan bacaan yang keras.
  • Harus berada di dalam waktu shalat.
Beberapa hal yang di sunahkan ketika mengumandangkan suara adzan sebagai berikut :
  • Adzan hendaknya di kumandangkan dengan suara yang merdu dan yang baik bacaannya.
  • Berdiri tegak dan menghadap kearah kiblat.
  • Muadzin yang mengumandangkan adzan hendaknya orang yang suci baik dari hadast kecil maupun hadast besar.
  • Bagi orang yang mendengarkan suara adzan hendaknya menjawab dengan kalimat atau bacaan yang di ucapkan oleh Muadzin, kecuali pada bacaan lafadz " HAYYA 'ALASH SHALAAH " dan " HAYYA 'ALAL FALAAH " maka di jawab dengan kalimat "LAA HAWLA WALAAQUWWATAILLABILAAH" yang artinya adalah "Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah".
  • Pada saat adzan shubuh ketika muadzin melafadzkan kalimat " ASH SHALAATU KHAYRUN MINAN NAWWM " maka bagi yang mendengarkan di sunahkan menjawabnya dengan kalimat "SHADAQTA WA BARARTA WA ANA'ALAA DZAALIKA MINASY SYAAHIDIN" yang artinya " Benar Engkau dan bagus Engkau, dan atas ucapan Engkau itu aku termasuk orang - orang yang menyaksikan.
Apakah bacaan doa setelah Adzan selesai di kumandangkan ?
Di bawah ini adalah contoh gambar doa setelah adzan selesai di kumandangkan.


Berikutnya adalah Iqamah, bagaimanakah bacaan iqamah itu ?
Pada dasarnya bacaan lafadz iqamah adalah sama saja dengan adzan hanya saja pengucapannya hanya satu kali, kecuali pada bacaan kalimah " QAD QAAMATISH SHOLAAH " yang di ucapkan sebanyak dua kali.

Bagaimana menjawab bacaan iqamah ? 
Bagi orang yang mendengar bacaan atau lafadz iqamah hendaknya menjawab dengan bacaan yang sama dengan yang di kumandangkan oleh Muadzin. Dan ketika pada bacaan "QAD QAAMATISH SHALAAH, QAD QAAMATISH SHALAAH" (  artinya Shalat telah di dirikan, shalat telah didirikan ) maka bagi yang mendengarnya di sunahkan menjawab dengan bacaan " AQAAMAHALLAAHU WA ADAAMAHAA WA JA'ALANI MIN SHAALIHI AHLIHAA"  yang artinya " Semoga Allah tetap mendirikan shalat itu dengan kekalnya, dan semoga Allah menjadikan aku dari golongan yang sebaik - baik mengerjakan shalat".

Demikianlah artikel tentang hal - hal yang di sunahkan sebelum mengerjakan shalat fardlu. Semoga kita termasuk golongan orang - orang yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. 

Ilmuwan Muslim Paling Berpengaruh Di Bidang Kimia Bagian 2


Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Ilmuwan Muslim di bidang kimia berikut ini saya akan share beberapa tokoh Ilmuwan Muslim lainnya di bidang kimia. 

1. AHMED ZEWAIL


Beliau mempunyai nama lengkap Dr. Ahmed Hassan Zewail. Beliau di lahirkan di Mesir yakni di kota Damanhour pada tanggal 26 Februari 1946. Beliau menyelesaikan pendidikan dengan gelar Master di universitas Alexandria. Kemudian beliau melanjutkan gelar doktoralnya di universitas Pensylvania dan tinggal di Amerika Serikat. Kemudian beliau melakukan penelitian di universitas California, dimana pada saat itu beliau mendapatkan jabatan Linus Pauling dalam bidang ilmu fisika dan kimia. Jabatan tersebut di peroleh dari California Institut Of Technology, Pasadena pada tahun 1990. Selain itu beliau adalah anggota dewan penasihat presiden Barrack Obama dalam bidang teknologi, sains dan inovasi.

Universitas Alexandria

Salah satu penghargaan atas hasil karyanya adalah beliau mendapatkan atau memenangkan hadiah Nobel pada tahun 1999 dalam bidang kimia. Ahmed Zewail adalah Ilmuwan Muslim kedua yang pernah memenangi hadiah nobel setelah Proffesor Abdus Salam dari Pakistan. Penemuan dari beliau yang mengantarkannya memenangkan hadiah nobel tersebut adalah penemuan Femtokimia, sebuah study mengenai reaksi kimia melintasi Femtoseconds atau 10 pangkat -15 detik.

Beliau menggunakan teknik laser ultra  cepat yang terdiri dari cahaya laser ultrapendek. Dengan teknik ini dapat memberikan penjelasan terhadap reaksi pada tingkat atom. Hal tersebut juga dapat dilihat sebagai bentuk kehebatan tingkat tinggi dari cahaya photografi. Dengan kata lain Femtokimia adalah ilmu yang mempelajari reaksi kimia pada skala waktu yang luar biasa pendek. 

2. AZIZ SANCAR


Azis Sancar di lahirkan di kota Savur Turky pada tanggal 8 September 1946. Beliau adalah seorang pakar biologi molekuler dan seorang Proffesor di Universitas North Carolina. Biologi molekuler adalah ilmu yang meneliti kehidupan pada skala molekul. Azis Sancar memenangkan hadiah Nobel pada tahun 2015 atas prestasinya yang berkaitan dengan metode pemulihan DNA atau DNA repair secara mekanistik.


Dalam bidang Biokimia, Azis Sancar adalah seorang Ilmuwan Muslim yang pertama yang bisa memenangkan hadiah Nobel. Penghargaan prestisius tersebut di raih oleh Aziz Sancar bersama dengan dua orang ilmuwan yang lain yakni Thomas Lindahl dan Paul L Modrich.

3. MOSTAFA EL-SAYED


Mostafa El-Sayed lahir pada tanggal 8 Mei 1933 di Mesir. Sama seperti Ahmed Zewail dan Aziz Sancar beliau juga mempunyai kewarganegaraan Amerika Serikat. Beliau adalah seorang peneliti dalam bidang Nano-Sains. Beliau terkenal dengan hukum Spektroskopi yang juga di namai hukum El-Sayed. Hukum tersebut menjelaskan tentang persilangan inter-sistem atau ISC (Intersystem Crossing). ISC adalah suatu proses fotofisikal yang melibatkan isoenergetik tanpa radiasi antara dua buah keadaan elektronik yang mempunyai perbedaan beragam.


El-Sayed meraih gelar Sarjana sains di universitas Ain Shams Kairo pada tahun 1953. Kemudian beliau memperoleh gelar doktoralnya di Universitas Florida State University. Beliau banyak menghabiskan waktunya sebagai peneliti di universitas Harvard, Yale sebelum akhirnya bergabung dengan universitas California di LA pada tahun 1961. 

Saat ini beliau menjabat sebagai ketua Julius Brown dan Regents Professor of Chemistry and Biochemistry di Institut Teknology Georgia. Selain itu beliau juga menjabat sebagai kepala Laboratorium Laser Dynamics. El-Sayed juga memperoleh penghargaan King Faisal dari Arab Saudi, yakni sebuah penghargaan hadiah Nobel versi Arab.

4. ABDUL QADEER KHAN


Beliau di lahirkan di kota Bhopal India pada tahun 1936. Beliau lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai - nilai pendidikan. Ayah beliau yakni Dr. Abdul Ghaforor Khan adalah seorang akademisi dalam kementrian pendidikan di India ketika India masih di bawah jajahan Inggris. 

Kemudian keluarga beliau pindah ke Pakistan setelah negara itu memisahkan diri dari India pada tahun 1947. Abdul Qadeer Khan adalah orang yang sangat berjasa bagi Pakistan dimana beliau telah mampu menjadikan Pakistan sebagai salah satu dari sembilan negara pemilik senjata nuklir di dunia ini. Gagasan beliau tentang pengayaan uranium menuai sukses sehingga pada tanggal 28 dan 30 Mei 1998 Pakistan berhasil melakukan percobaan dengan meledakkan enam bom nuklirnya, sehingga beliau mendapat julukan sebagai bapak Nuklir Pakistan.

Sejarah pendidikan beliau di mulai ketika beliau telah menyelesaikan pendidikan di negaranya. Kemudian beliau meraih gelar doktoral pada universitas Katolik di Leuven Belgia pada tahun 1972. Kemudian beliau bergabung dengan laboratorium riset dinamis di Amsterdam dalam perusahaan URENCO. Perusahaan tersebut adalah sebuah perusahaan riset pengayaan uranium di Belanda. Hal itulah yang menjadi titik balik dari kehidupannya. Beliau kemudian mendapatkan posisi penting berkat kejeniusannya.

Demikian artikel tentang ilmuwan Muslim di bidang kimia bagian 2, dapatkan artikel menarik lainnya tentang Ilmuwan Muslim dan tentang agama Islam di blog ini.
Salam

Referensi: 
1000+kejayaan sains muslim terbesar.
PT Elex Media Komputindo