Bab Akikah Dan Qurban | Ketentuan Qurban



PENGERTIAN QURBAN

Kata Qurban secara etimologi berasal dari kata Qarab-Yaqrabu-Quebanan yang mempunyai makna atau arti mendekat atau dekat. Sedangkan kata Qurban menurut istilah adalah menyembelih binatang ternak yang telah memenuhi syarat tertentu dan di laksanakan pada waktu tertentu dengan niat ibadah guna mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Ajaran ibadah berqurban berasala dari kisah Nabi Ibrahim AS yang di perintahkan oleh Allah SWT untuk menyembelih putranya yang bernama Ismail. Perintah dari Allah SWT tersebut di dapatkan oleh Nabi Ibrahim AS melalui mimpinya. Kisah tersebut di abadikan dalam Alquran surah Ash Shaffat ayat ke 102 sampai dengan ayat ke 108. 

Firman Allah SWT dalam Alqur'an :





Dari ayat - ayat di atas kiranya kita dapat menyimpulkan bahwa Nabi Ibrahim AS bermimpi pada malam kedelapan bulan Zhulhijjah untuk menyembelih putranya atas perintah Allah SWT. 

Sebagai orang yang taat, maka Nabi Ibrahim AS kemudian menyampaikan hal tersebut kepada putranya Ismail. Ternyata Ismail adalah anak yang taat kepada orang tuanya dan dia tidak merasa keberatan atas perintah Allah SWT tersebut.

Kemudian pada hari kesepuluh bulan Zhulhijjah pada waktu dhuha maka Nabi Ibrahim melaksanakan perintah Allah SWT untuk menyembelih putranya Ismail. Kemudian tepat pada saat itulah Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor kambing sembelihan. Hari kesepuluh bulan Zhulhijjah kemudian di sebut sebagai "Yaumunnahar" yang artinya hari menyembelih.

Dari peristiwa itulah maka ajaran berqurban berlaku sampai sekarang kepada umat Nabi Muhammad SAW.

Syariat tentang perintah Qurban juga terdapat dalam Alquran surah Al Kautsar ayat 1-3, yaitu :

Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda dalam hadistnya yang di riwayatkan oleh sahabat yakni Ibnu Majah dan telah di syahkan oleh Hakim :



Demikianlah sekilas tentang pengertian Qurban. Semoga kita termasuk orang - orang yang bertaqwa yang selalu taat kepada perintah Allah SWT.

Bab Akikah Dan Qurban | Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban Dan Akikah


Pada artikel sebelumnya saya telah membahas seperti pengertian akikah, hukum akikah, waktu pelaksanaan akikah, perbedaan antara qurban dan akikah serta syarat dan fungsi dari akikah. Anda dapat membaca semuanya di blog ini.

Pada kesempatan kali ini saya akan lanjutkan membahas tentang Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban Dan Akikah.

Berikut ini adalah tata cara penyembelihan hewan qurban dan akikah sesuai dengan ketentuan hukum agama Islam yaitu :

1. Niat memotong dan menyembelih hewan akikah hanya karena memenuhi perintah dari Allah SWT semata.

2. Menyiapkan alat untuk menyembelih hewan akikah tersebut ( bisa berupa pisau, golok atau sejenisnya ) yang penting tajam.

3. Mengikat dengan kuat hewan yang akan di sembelih serta menghadapkannya ke arah kiblat.

4. Membaca Asma Allah yakni Bismillahirrahmannirrahim.

5. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.

6. Membaca kalimah takbir.

7. Memotong hewan qurban atau akikah sampai dengan urat atau kerongkongannya putus.

8. Membaca doa agar kiranya hewan qurban atau akikah tersebut di terima oleh Allah SWT.

Berikut ini adalah contoh doa akikah yang di baca oleh Rasulullah SAW : 
" Ya Allah, ini perbuatan karena perintah-MU, aku kerjakan karena-MU, terimalah oleh-MU amalku ini untuk anakku yang bernama Rahmat ".

Contoh doa akikah yang lain dari Rasulullah SAW :
" Ya Allah, terimalah qurban Muhammad, keluarga dan umatnya "(HR. Ahmad dan Muslim)

Adapun fungsi dari qurban atau akikah dalam kehidupan yaitu :

1. Taqarrub (Mendekatkan diri) kepada Allah SWT.

2. Menumbuhkan sikap kepedulian sosial.

3. Meningkatkan kesadaran diri untuk memiliki jiwa berkorban di jalan Allah SWT.

Demikianlah artikel singkat ini semoga memberikan manfaat dan pengetahuan kepada kita semua. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang - orang yang senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT. 

Bab Akikah Dan Qurban | Syarat Akikah Dan Fungsi Akikah


Melanjutkan artikel sebelumnya tentang Akikah ( Baca disini Link ), maka pada artikel kali ini saya akan menjelaskan tentang syarat akikah dan fungsi akikah. Selain itu saya akan menjelaskan juga mengenai perbedaan - perbedaan antar akikah dengan qurban.

A. Syarat Dan Fungsi Akikah

Adapun syarat - syarat dan ketentuan dalam pembagian daging hewan akikah antara lain :
  • Hewan yang di sembelih adalah hewan ternak yakni Kambing.
  • Hewan untuk akikah harus sehat dan tidak cacat.
  • Telah memenuhi ketentuan umur hewan yang boleh di gunakan sebagai hewan akikah.
  • Pembagian daging hewan akikah, yaitu : 1/3 bagian di hadiahkan kepada orang lain, 1/3 bagian untuk di makan oleh keluarga dan 1/3 bagian yang lain untuk di sedekahkan.
Sementara itu fungsi dari akikah antara lain adalah :
  • Sebagai penebus gadai karena pada dasarnya setiap anak yang di lahirkan seperti di gadaikan sampai orang tua dapat menebusnya dengan cara menyembelih hewan akikah.
  • Sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang di terima kepada Allah SWT.
  • Sebagai sedekah bagi keluarga dan tetangga.
  • Sebagai upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
  • Menjalin keakraban dengan kerabat dan juga tetangga.
  • Menghidupkan sunah Rasulullah SAW.
Selain itu, akikah juga mempunyai hikmah bagi orang tua yang melaksanakannya yakni :
Sebagai bukti rasa kasih sayang orang tua kepada anaknya.
Sebagai bukti tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.
Sebagai bukti rasa syukur kepada Allah SWT karena telah di berikan amanah berupa seorang anak.
Sebagai ajang penyambutan doa orang tua kepada anak agar kelak menjadi anak yang shaleh.

B. Perbedaan antara akikah dengan Qurban.

Diantara perbedaan antara akikah dengan qurban adalah :
  • Akikah di syariatkan untuk di laksanakan berkenaan dengan kelahiran seorang anak, sedangkan Qurban di syariatkan pada tanggal 10 - 13 Zulhijjah.
  • Akikah di syariatkan di laksanakan satu kali seumur hidup, sementara qurban di syariatkan untuk di laksanakan setiap tahun bagi yang mampu.
  • Jumlah hewan akikah sudah di tentukan yakni untuk anak laki-laki sebanyak dua ekor dan untuk anak perempuan sebanyak satu ekor, sementara qurban di syriatkan cukup satu ekor saja.
  • Untuk akikah jika menggunakan binatang lain selain kambing maka jumlahnya cuup satu ekor, sedangkan untuk qurban maka satu ekor sapi bisa dipakai untuk tujuh orang.
  • Daging akikah di berikan setelah daging tersebut di masak, sementara untuk daging qurban lebih di utamakan agar daging di bagikan sebelum di masak ( mentah).
Demikianlah artikel tentang syarat dan fungsi akikah, semoga membawa manfaat bagi saya dan juga anda dalam mempelajari agama Islam.

Bab Akikah Dan Qurban | Ketentuan Akikah


Pengertian Akikah

Akikah adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab yakni "Aqqa" yang mempunyai makna atau arti memotong. Memotong yang di maksud di sini adalah memotong rambut yang tumbuh di bagian kepala bayi yang baru lahir. Sedangkan menurut istilah kata akikah artinya adalah menyembelih binatang ternak tertentu yang di lakukan bertepatan dengan kelahiran anak sebagai tanda atau wujud rasa syukur atas segala nikmat yang telah di berikan oleh Allah SWT. Binatang ternak yang di sunahkan untuk di sembelih adalah kambing. Bagi anak laki - laki maka di sunahkan untuk menyembelih sebanyak dua ekor, sedangkan bagi anak perempuan di sunahkan untuk menyembelih sebanyak satu ekor saja.

Rasulullah SAW telah bersabda yang artinya, " Dari Aisyah Ra berkata, " Rasulullah SAW telah menyuruh kita menyembelih hewan akikah untuk bayi laki - laki dua ekor dan untuk bayi perempuan satu ekor kambing " (HR. Abu Dawud).

Dalam hadistnya yang lain, Rasulullah SAW bersabda yang artinya, " Bahwasannya Rasulullah SAW melaksanakan akikah untuk Hasan dan Husain masing - masing seekor kambing Gibas " (HR. Ashabus Sunan).

Hukum Akikah

Hukum dari pelaksanaan akikah adalah sunah muakkad, yakni sunah yang di utamakan dan di kuatkan yang hampir mendekati wajib. Sebagai keluarga muslim kita hendaknya melaksanakan akikah tersebut dan jangan meninggalkannya kecuali jika kita memang sangat tidak mampu untuk melaksanakannya. Syarat dan dan jenis binatang untuk akikah adalah sama dengan hewan qurban yakni tidak cacat dan telah cukup umur.

Dasar dari akikah itu sendiri di jelaskan dalam sebuah hadist Nabi SAW yang artinya : " Setiap bayi yang baru lahir itu menjadi tergadai sampai di sembelihkan hewan akikah pada hari ketujuh dari lahirnya, di cukur rambutnya dan di beri nama " (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّيكُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تَذْ بَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

Berdasarkan pada hadist tersebut maka yang di maksud dengan tergadai adalah mempunyai hutang yang harus di bayar atau di tebus. Jadi orang tua seakan - akan mempunyai hutang terhadap anaknya tersebut sampai dia membayarnya dengan cara menyembelih hewan akikah untuknya.

Waktu Pelaksanaan Akikah

Menurut ketentuannya, penyembelihan hewan akikah di laksanakan pada hari ketujuh kelahiran anak. Bersamaan dengan pelaksanaan akikah tersebut juga di sunahkan untuk memberikan nama kepada anak tersebut dengan nama yang baik. Nama yang baik di sini adalah nama yang mengandung doa. Pada saat itu juga di sunahkan untuk memotong rambut di bagian kepala anak tersebut.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya :" Dari Samurah Ra. Dari Nabi SAW, Ia berkata" Tiap - tiap bayi tergadai dengan akikahnya yang harus di potongkan kambing pada hari ketujuh kelahirannya, dan pada hari itu pula di cukur rambutnya serta memberi nama ". (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Dan apabila hari ketujuh telah lewat, akikah juga dapat di laksanakan pada hari - hari yang lain selama anak belum baligh.

Rasulullah SAW bersabda yang artinya :" Akikah di sembelih pada hari ketujuh, keempat belas, atau keduapuluh satu (dari lahirnya anak)." (HR. Al-Baihaqi).

Baca selanjutnya mengenai syarat akikah di artikel selanjutnya.

Kumpulan Artikel Tentang Shalat | Syarat - Syarat Dan Rukun Shalat



Sebelum kita melaksanakan kewajiban untuk mengerjakan Shalat, maka sebaiknya kita mengetahui dan mempelajari terlebih dahulu hal - hal yang berkaitan dengan ibadah Shalat itu sendiri. Seperti halnya ibadah - ibadah yang lain dalam agama Islam di mana dalam setiap ibadah yang di sunahkan maupun di wajibkan kepada umat Islam senantiasa ada syariat dan ilmunya. Dan kewajiban kita sebagai umat Islam harus mempelajari syariat dan ilmu tersebut agar ibadah yang kita kerjakan sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Allah SWT.

A. Syarat -Syarat yang harus di penuhi oleh seseorang yang hendak mengerjakan Shalat ada lima (5) buah perkara, yaitu :

1. Mensucikan seluruh anggota tubuh kita dari hadast kecil maupun hadast besar. Anggota tubuh dan pakaian yang kita kenakanpun  juga harus suci dari najis.

2. Menutup seluruh aurat.
  • Untuk kaum laki - laki auratnya dari pusar sampai ke lutut.
  • Untuk kaum perempuan auratnya adalah seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan.
3. Berdiri dan berada di tempat yang suci.
4. Mengetahui bahwasannya waktu shalat telah masuk / tiba.
5. Menghadap kearah kiblat (Ka'bah).

Dalam hal ini untuk syarat yang nomor lima, terdapat ruhsyoh atau keringanan yang mana seseorang boleh mengerjakan  shalat dan tidak menghadap ke arah kiblat dalam dua situasi dan kondisi, yaitu :

1. Dalam situasi  dan kondisi peperangan.
2. Dalam shalat sunah ketika sedang bepergian dan berada di dalam kendaraan.

B. Rukun Shalat


Rukun shalat terdiri dari tigabelas (13) buah perkara, yaitu :
  • Niat (Di dalam hatinya).
  • Berdiri bagi yang mampu berdiri ketika mengerjakan Shalat Fardlu.
  • Membaca Takbiratul Ikhram.
  • Membaca surah Al Fatihah pada tiap - tiap rekaat dan bacaan Bismillahirrahmannirrahiim adalah termasuk kedalam ayat surah Al Fatihah tersebut.
  • Rukuk dengan Thuma'ninah (Tenang).
  • I'tidal (berdiri setelah rukuk) dengan Thuma'ninah (tenang).
  • Sujud dua kali pada setiap rekaat dengan Tuma'ninah (tenang).
  • Duduk diantara dua sujud dengan Thuma'ninah (tenang).
  • Duduk tasyahhud akhir.
  • Membaca bacaan tasyahhud di dalam duduk tasyahhud akhir.
  • Membaca shalawat Nabi di dalam membaca tasyahhud akhir.
  • Membaca salam yang pertama.
  • Tertib sesuai dengan urutannya.
Demikianlah syarat - syarat Shalat dan rukun Shalat dalam Agama Islam. Bagi umat Muslim Shalat lima waktu adalah Wajib hukumnya dan tidak boleh di tinggalkan.
Semoga kita termasuk kedalam golongan orang - orang yang senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT.

Kumpulan Artikel Tentang Shalat | Hal-Hal Sunah Sebelum Shalat Fardlu



Sebelum kita melaksanakan ibadah shalat fadlu (wajib) secara berjamaah, maka kita di sunahkan untuk mengumandangkan lafadz adzan dan iqamah. Pengertian adzan adalah lafadz atau kalimat - kalimat tertentu yang di kumandangkan sebagai penanda bahwa waktu shalat fadlu telah tiba. Sedangkan iqamah adalah lafadz atau kalimat - kalimat tertentu yang di kumandangkan sebagai penanda bahwa shalat fardlu berjamaah akan segera di mulai.

Untuk shalat sunah tidak di sunahkan untuk menyerukan lafadz adzan maupun iqamah akan tetapi untuk shalat sunah yang di kerjakan secara berjamaah seperti misalnya shalat sunah Tarawih, shalat Iedul fitri, shalat Iedul Adha, shalat Gerhana, shalat Istisqa dan shalat jenazah menggunakan ladfadz atau kalimat - kalimat tertentu yang sesuai dengan  kaidah hukum fiqih yang telah di tentukan.

Bagaimanakah hukum adzan dan iqamah itu ?  Hukum mengumandangkan adzan dan iqamah adalah sunah dan di lakukan ketika akan mengerjakan shalat fardlu. Di sunahkan pula untuk mengeraskan suara adzan ketika waktu shalat fardlu telah tiba, terkecuali di tempat yang sudah di laksanakan shalat fardlu sebelumnya.

Bagaimanakah lafadz adzan itu ?

Berikut ini adalah gambar contoh dari lafadz adzan sebelum shalat fardlu.

Sumber:pinterest

Dalam sejarahnya orang yang pertama kali mengumandangkan adzan sebelum shalat fardlu adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Bilal bin Rabah. Bilal adalah termasuk kedalam golongan sahabat Nabi SAW yang paling dekat karena dia adalah orang ketujuh yang pertama kali mengakui kenabian Nabi Muhammad SAW dan menyatakan beriman kepada Allah SWT. Di pilihnya Bilal sebagai Muadzin pertama oleh Nabi SAW adalah karena Bilal mempunyai suara yang sangat merdu dan indah. Selain itu Bilal juga mempunyai suara yang keras sehingga suara adzan yang di kumandangkannya bisa menjangkau umat Islam yang lebih luas.

Syarat - Syarat Adzan Dan Iqamah.

  • Harus di baca secara tertib sesuai dengan urutan bacaannya.
  • Harus bersambung artinya tidak berhenti dan di selingi dengan bacaan - bacaan yang lain.
  • Harus di kumandangkan dengan bacaan yang keras.
  • Harus berada di dalam waktu shalat.
Beberapa hal yang di sunahkan ketika mengumandangkan suara adzan sebagai berikut :
  • Adzan hendaknya di kumandangkan dengan suara yang merdu dan yang baik bacaannya.
  • Berdiri tegak dan menghadap kearah kiblat.
  • Muadzin yang mengumandangkan adzan hendaknya orang yang suci baik dari hadast kecil maupun hadast besar.
  • Bagi orang yang mendengarkan suara adzan hendaknya menjawab dengan kalimat atau bacaan yang di ucapkan oleh Muadzin, kecuali pada bacaan lafadz " HAYYA 'ALASH SHALAAH " dan " HAYYA 'ALAL FALAAH " maka di jawab dengan kalimat "LAA HAWLA WALAAQUWWATAILLABILAAH" yang artinya adalah "Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah".
  • Pada saat adzan shubuh ketika muadzin melafadzkan kalimat " ASH SHALAATU KHAYRUN MINAN NAWWM " maka bagi yang mendengarkan di sunahkan menjawabnya dengan kalimat "SHADAQTA WA BARARTA WA ANA'ALAA DZAALIKA MINASY SYAAHIDIN" yang artinya " Benar Engkau dan bagus Engkau, dan atas ucapan Engkau itu aku termasuk orang - orang yang menyaksikan.
Apakah bacaan doa setelah Adzan selesai di kumandangkan ?
Di bawah ini adalah contoh gambar doa setelah adzan selesai di kumandangkan.


Berikutnya adalah Iqamah, bagaimanakah bacaan iqamah itu ?
Pada dasarnya bacaan lafadz iqamah adalah sama saja dengan adzan hanya saja pengucapannya hanya satu kali, kecuali pada bacaan kalimah " QAD QAAMATISH SHOLAAH " yang di ucapkan sebanyak dua kali.

Bagaimana menjawab bacaan iqamah ? 
Bagi orang yang mendengar bacaan atau lafadz iqamah hendaknya menjawab dengan bacaan yang sama dengan yang di kumandangkan oleh Muadzin. Dan ketika pada bacaan "QAD QAAMATISH SHALAAH, QAD QAAMATISH SHALAAH" (  artinya Shalat telah di dirikan, shalat telah didirikan ) maka bagi yang mendengarnya di sunahkan menjawab dengan bacaan " AQAAMAHALLAAHU WA ADAAMAHAA WA JA'ALANI MIN SHAALIHI AHLIHAA"  yang artinya " Semoga Allah tetap mendirikan shalat itu dengan kekalnya, dan semoga Allah menjadikan aku dari golongan yang sebaik - baik mengerjakan shalat".

Demikianlah artikel tentang hal - hal yang di sunahkan sebelum mengerjakan shalat fardlu. Semoga kita termasuk golongan orang - orang yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. 

Ilmuwan Muslim Paling Berpengaruh Di Bidang Kimia Bagian 2


Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Ilmuwan Muslim di bidang kimia berikut ini saya akan share beberapa tokoh Ilmuwan Muslim lainnya di bidang kimia. 

1. AHMED ZEWAIL


Beliau mempunyai nama lengkap Dr. Ahmed Hassan Zewail. Beliau di lahirkan di Mesir yakni di kota Damanhour pada tanggal 26 Februari 1946. Beliau menyelesaikan pendidikan dengan gelar Master di universitas Alexandria. Kemudian beliau melanjutkan gelar doktoralnya di universitas Pensylvania dan tinggal di Amerika Serikat. Kemudian beliau melakukan penelitian di universitas California, dimana pada saat itu beliau mendapatkan jabatan Linus Pauling dalam bidang ilmu fisika dan kimia. Jabatan tersebut di peroleh dari California Institut Of Technology, Pasadena pada tahun 1990. Selain itu beliau adalah anggota dewan penasihat presiden Barrack Obama dalam bidang teknologi, sains dan inovasi.

Universitas Alexandria

Salah satu penghargaan atas hasil karyanya adalah beliau mendapatkan atau memenangkan hadiah Nobel pada tahun 1999 dalam bidang kimia. Ahmed Zewail adalah Ilmuwan Muslim kedua yang pernah memenangi hadiah nobel setelah Proffesor Abdus Salam dari Pakistan. Penemuan dari beliau yang mengantarkannya memenangkan hadiah nobel tersebut adalah penemuan Femtokimia, sebuah study mengenai reaksi kimia melintasi Femtoseconds atau 10 pangkat -15 detik.

Beliau menggunakan teknik laser ultra  cepat yang terdiri dari cahaya laser ultrapendek. Dengan teknik ini dapat memberikan penjelasan terhadap reaksi pada tingkat atom. Hal tersebut juga dapat dilihat sebagai bentuk kehebatan tingkat tinggi dari cahaya photografi. Dengan kata lain Femtokimia adalah ilmu yang mempelajari reaksi kimia pada skala waktu yang luar biasa pendek. 

2. AZIZ SANCAR


Azis Sancar di lahirkan di kota Savur Turky pada tanggal 8 September 1946. Beliau adalah seorang pakar biologi molekuler dan seorang Proffesor di Universitas North Carolina. Biologi molekuler adalah ilmu yang meneliti kehidupan pada skala molekul. Azis Sancar memenangkan hadiah Nobel pada tahun 2015 atas prestasinya yang berkaitan dengan metode pemulihan DNA atau DNA repair secara mekanistik.


Dalam bidang Biokimia, Azis Sancar adalah seorang Ilmuwan Muslim yang pertama yang bisa memenangkan hadiah Nobel. Penghargaan prestisius tersebut di raih oleh Aziz Sancar bersama dengan dua orang ilmuwan yang lain yakni Thomas Lindahl dan Paul L Modrich.

3. MOSTAFA EL-SAYED


Mostafa El-Sayed lahir pada tanggal 8 Mei 1933 di Mesir. Sama seperti Ahmed Zewail dan Aziz Sancar beliau juga mempunyai kewarganegaraan Amerika Serikat. Beliau adalah seorang peneliti dalam bidang Nano-Sains. Beliau terkenal dengan hukum Spektroskopi yang juga di namai hukum El-Sayed. Hukum tersebut menjelaskan tentang persilangan inter-sistem atau ISC (Intersystem Crossing). ISC adalah suatu proses fotofisikal yang melibatkan isoenergetik tanpa radiasi antara dua buah keadaan elektronik yang mempunyai perbedaan beragam.


El-Sayed meraih gelar Sarjana sains di universitas Ain Shams Kairo pada tahun 1953. Kemudian beliau memperoleh gelar doktoralnya di Universitas Florida State University. Beliau banyak menghabiskan waktunya sebagai peneliti di universitas Harvard, Yale sebelum akhirnya bergabung dengan universitas California di LA pada tahun 1961. 

Saat ini beliau menjabat sebagai ketua Julius Brown dan Regents Professor of Chemistry and Biochemistry di Institut Teknology Georgia. Selain itu beliau juga menjabat sebagai kepala Laboratorium Laser Dynamics. El-Sayed juga memperoleh penghargaan King Faisal dari Arab Saudi, yakni sebuah penghargaan hadiah Nobel versi Arab.

4. ABDUL QADEER KHAN


Beliau di lahirkan di kota Bhopal India pada tahun 1936. Beliau lahir dan tumbuh di lingkungan keluarga yang sangat menjunjung tinggi nilai - nilai pendidikan. Ayah beliau yakni Dr. Abdul Ghaforor Khan adalah seorang akademisi dalam kementrian pendidikan di India ketika India masih di bawah jajahan Inggris. 

Kemudian keluarga beliau pindah ke Pakistan setelah negara itu memisahkan diri dari India pada tahun 1947. Abdul Qadeer Khan adalah orang yang sangat berjasa bagi Pakistan dimana beliau telah mampu menjadikan Pakistan sebagai salah satu dari sembilan negara pemilik senjata nuklir di dunia ini. Gagasan beliau tentang pengayaan uranium menuai sukses sehingga pada tanggal 28 dan 30 Mei 1998 Pakistan berhasil melakukan percobaan dengan meledakkan enam bom nuklirnya, sehingga beliau mendapat julukan sebagai bapak Nuklir Pakistan.

Sejarah pendidikan beliau di mulai ketika beliau telah menyelesaikan pendidikan di negaranya. Kemudian beliau meraih gelar doktoral pada universitas Katolik di Leuven Belgia pada tahun 1972. Kemudian beliau bergabung dengan laboratorium riset dinamis di Amsterdam dalam perusahaan URENCO. Perusahaan tersebut adalah sebuah perusahaan riset pengayaan uranium di Belanda. Hal itulah yang menjadi titik balik dari kehidupannya. Beliau kemudian mendapatkan posisi penting berkat kejeniusannya.

Demikian artikel tentang ilmuwan Muslim di bidang kimia bagian 2, dapatkan artikel menarik lainnya tentang Ilmuwan Muslim dan tentang agama Islam di blog ini.
Salam

Referensi: 
1000+kejayaan sains muslim terbesar.
PT Elex Media Komputindo